Minggu, 26 Oktober 2014


KEPERGIANNYA

            Subuh mulai datang nampaknya hari ini aku bangun agak kesiangan, aku segera melaksanakan kewajibanku untuk bersimpuh dan besujud kepada-Nya. Seusai 2 rakaat aku segera bersiap-siap untuk menambah ilmu ke sekolah, tiba-tiba tanpa sengaja aku menjatuhkan foto pamanku, seketika aku menjadi ingat kenangan-kenangan indah bersamanya. Beliau adalah penopang keluargaku, entahlah apa jadinya keluargaku tanpa beliau, beliau lebih special dari ayahku sendiri, aku lebih suka dekat dengannya disbanding sama ayahku. Sekarang, sampai saat ini pun aku masih merindukannya, suara ramahnya, kata-kata lembutnya, wajahnya. Andai saja penyakit itu tak datang mungkin sampai saat ini aku masih bias melihatnya, mendengar suaranya, melihat sosok yang aku sayangi. Namun saying takdir berkehendak lain beliau meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya, tepat tanggal 08-05-2014 beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Keluarga kami sangat berduka dan rapuh pada saat itu, kami kehilangan penopang kami, sumber kekuatan kami, sumber kebahagiaan kami, pondasi keluarga telah hilang hanya tersisa bangunannya. Aku pun tak menyangka beliau meinggalkan kami semua secepat ini, padahal kami masih membutuhkan penopang kami, aku sempat berpikir apa jadinya aku tanpanya, bagaimana aku bias menjalani hidup ini sedangkan aku sangat bergantung padanya. Aku merasa Tuhan tak adil pada saat itu, karena Dia mengambil orang yang hamba butuhkan. Sejak saat itu keluarga kami mengalami banya perubahan, tak ada lagi senyum yang biasanya sering ku lihat hanya ada mata berkaca-kaca tiap hari. Binar mata dari keluarga seakan-akan menahan kepedihan yang sangat mendalam, tak terasa jatuhlah butiran-butiran jernih dari mata yang membasahi pipi. Tak jarang aku masih mengingat beliau dengan mengingat kenangan indah bersamanya, kebersamaan kami tak kan ku lupakan meskipun aku dan beliau sudah berbeda alam, namun do’a ku untuk beliau tak kan pernah putus. Tiba-tiba aku tersentak dan aku membuyarkan lamunanku karena arlogi ku sudah menunjukkan pukul 06.20 aku segera berangkat sekolah. Tak lupa ku menyalami dan berpamitan dengan nenek dan ibuku.
            Hingga terik surya tak tak lagi menyengat dikulit, segera ku pulang sekolah dan ku akhiri bercanda,tertawa dengan teman-teman. Pukul 16.00 tepat ku sampai di rumah, ku ucap kan salam didepan daun pintu. Segera ku letakkan baju, sepatu, dan tas di raknya masing-masing, segera ku membasahi diri dengan air dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat ashar. Seusai berdo’a ku menyiapkan buku pelajaran untuk jadwal besok ke sekolah, tak terasa perut ku bernyanyi-nyanyi menandakan ku lapar. Dengan suara lembut ibuku menyuruhku untuk makan “ nak, makan dulu ibu sudah siapkan makanan kesukaan kamu.” Ku segera mengiyakan perintah ibuku “ iya, ibu.” Dengan lahab ku menyantap masakan yang ibu buat untukku.
            Surya tak lagi menunjukkan binarnya yang tersisa hingga kala senja kemerahan menghiasi langit diarah barat. Segera ku malaksanakan 3 rakaat dan menghadap kepada-Nya, dengan do’a-do’a yang mampu ku panjatkan. Tak terasa malam semakin pekat, tak ada lagi suara tetangga yang biasanya bising yang terdengar hanyalah suara hewan kecil seperti katak, jangkrik, dan lain-lain. Mata semakin lama semakin sayup, hingga mata ini terpejam dan terbaring ke mimpi indah di pulau mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar