KEPERGIANNYA
Subuh mulai datang nampaknya hari
ini aku bangun agak kesiangan, aku segera melaksanakan kewajibanku untuk
bersimpuh dan besujud kepada-Nya. Seusai 2 rakaat aku segera bersiap-siap untuk
menambah ilmu ke sekolah, tiba-tiba tanpa sengaja aku menjatuhkan foto pamanku,
seketika aku menjadi ingat kenangan-kenangan indah bersamanya. Beliau adalah
penopang keluargaku, entahlah apa jadinya keluargaku tanpa beliau, beliau lebih
special dari ayahku sendiri, aku lebih suka dekat dengannya disbanding sama
ayahku. Sekarang, sampai saat ini pun aku masih merindukannya, suara ramahnya,
kata-kata lembutnya, wajahnya. Andai saja penyakit itu tak datang mungkin
sampai saat ini aku masih bias melihatnya, mendengar suaranya, melihat sosok
yang aku sayangi. Namun saying takdir berkehendak lain beliau meninggal dunia
karena penyakit yang dideritanya, tepat tanggal 08-05-2014 beliau menghembuskan
nafas terakhirnya. Keluarga kami sangat berduka dan rapuh pada saat itu, kami
kehilangan penopang kami, sumber kekuatan kami, sumber kebahagiaan kami,
pondasi keluarga telah hilang hanya tersisa bangunannya. Aku pun tak menyangka
beliau meinggalkan kami semua secepat ini, padahal kami masih membutuhkan
penopang kami, aku sempat berpikir apa jadinya aku tanpanya, bagaimana aku bias
menjalani hidup ini sedangkan aku sangat bergantung padanya. Aku merasa Tuhan
tak adil pada saat itu, karena Dia mengambil orang yang hamba butuhkan. Sejak
saat itu keluarga kami mengalami banya perubahan, tak ada lagi senyum yang
biasanya sering ku lihat hanya ada mata berkaca-kaca tiap hari. Binar mata dari
keluarga seakan-akan menahan kepedihan yang sangat mendalam, tak terasa
jatuhlah butiran-butiran jernih dari mata yang membasahi pipi. Tak jarang aku
masih mengingat beliau dengan mengingat kenangan indah bersamanya, kebersamaan
kami tak kan ku lupakan meskipun aku dan beliau sudah berbeda alam, namun do’a
ku untuk beliau tak kan pernah putus. Tiba-tiba aku tersentak dan aku
membuyarkan lamunanku karena arlogi ku sudah menunjukkan pukul 06.20 aku segera
berangkat sekolah. Tak lupa ku menyalami dan berpamitan dengan nenek dan ibuku.
Hingga terik surya tak tak lagi
menyengat dikulit, segera ku pulang sekolah dan ku akhiri bercanda,tertawa
dengan teman-teman. Pukul 16.00 tepat ku sampai di rumah, ku ucap kan salam
didepan daun pintu. Segera ku letakkan baju, sepatu, dan tas di raknya
masing-masing, segera ku membasahi diri dengan air dan bersiap-siap untuk
melaksanakan sholat ashar. Seusai berdo’a ku menyiapkan buku pelajaran untuk
jadwal besok ke sekolah, tak terasa perut ku bernyanyi-nyanyi menandakan ku
lapar. Dengan suara lembut ibuku menyuruhku untuk makan “ nak, makan dulu ibu
sudah siapkan makanan kesukaan kamu.” Ku segera mengiyakan perintah ibuku “
iya, ibu.” Dengan lahab ku menyantap masakan yang ibu buat untukku.
Surya tak lagi menunjukkan binarnya
yang tersisa hingga kala senja kemerahan menghiasi langit diarah barat. Segera
ku malaksanakan 3 rakaat dan menghadap kepada-Nya, dengan do’a-do’a yang mampu
ku panjatkan. Tak terasa malam semakin pekat, tak ada lagi suara tetangga yang
biasanya bising yang terdengar hanyalah suara hewan kecil seperti katak,
jangkrik, dan lain-lain. Mata semakin lama semakin sayup, hingga mata ini
terpejam dan terbaring ke mimpi indah di pulau mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar